Dasar HUKUM WAKAF UANG

1. Apa landasan hukum Al-Quran mengenai wakafuang?

Firman Allah SWT: “Kamu sekali-kali tidak sampai

kepada kebaikan (yang sempurna), sebelum kamu

menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai.

Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka

sesungguhnya Allah mengetahuinya”. (Lihat, QS. AlImron [3]:92).

Firman Allah SWT: “Perumpamaan (nafkah yang

dikeluarkan oleh) orang yang menafkahkan hartanya

di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih

yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap

tangkai ada seratus biji. Allah melipat gandakan

(ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah

Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah,

kemudian mereka tidak mengiringi apa yang

dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut

pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan penerima),

mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan

mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka

dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (Lihat, QS.

Al-Baqarah [2].261-262).

2. Apa landasan hukum Hadist Nabi mengenai wakafuang?

Hadist Nabis s.a.w: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah

r:a. bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda, “Apabila

manusia meninggal dunia, terputuslah (pahala) amal

perbuatannya kecuali dari tiga hal, yaitu kecuali dari

sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang dimanfaatkan,

atau anak shaleh yang mendoakannya”. (Lihat, H.R.

Muslim, al Tirmidzi, al-Nasa’ i, dan Abu Daud).

Hadist Nabi s.a.w.: “Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra.

bahwa Umar bin al Khathab r. a. memperoleh tanah

(kebun) di Khaibar; lalu ia datang kepada Nabi s.a.w

untuk meminta petunjuk mengenai tanah tersebut.

Ia berkata, “Wahai Rasulullah.’ Saya memperoleh

tanah di Khaibar; yang belum pernah saya peroleh

harta Yang lebih baik bagiku melebihi tanah tersebut;

 apa perintah Engkau (kepadaku) mengenainya?

“Nabi s.a.w menjawab: “Jika mau, kamu

tahan pokoknya dan kamu sedekahkan (hasil)-nya.

“Ibnu Umar berkata, “Maka, Umar menyedekahkan

tanah tersebut, (dengan mensyaratkan) bahwa

tanah itu tidak dijual, tidak dihibahkan, dan tidak

diwariskan. Ia menyedekah-kan (hasil)-nya kepada

fuqara, kerabat, riqab (hamba sahaya, orang

tertindas), sabilillah, ibnu sabil, dan tamu. Tidak

berdosa atas orang yang mengelolanya untuk

memakan dari (hasil) tanah itu secara ma’ruf (wajar)

dan memberi makan (kepada orang lain) tanpa

menjadikannya sebagai harta hak milik.” Rawi

berkata, “Saya menceritakan hadist tersebut kepada

Ibnu Sirin, lalu ia berkata ‘ghaira muta’tstsilin

malan’ (tanpa menyimpannya sebagai harta hak

milik)”. (Lihat, H.R. al-Bukhari, Muslim, al-Tarmidzi,

dan al Nasa’i).

3. Apa landasan hukum positif wakaf uang diIndonesia?

a. Undang-Undang No. 41 tahun 2004 tentang

Wakaf;

b. Peraturan Pemerintah No. 42 tahun 2006

tentang Pelaksanaan UU Wakaf;

c. Peraturan Menteri Agama No. 4 Tahun 2009

Tentang Administrasi Wakaf Uang;

d. Keputusan Menteri Agama No. 92-96 Tentang

Penetapan 5 LKS menjadi LKS PWU;

e. Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan

Masyarakat Islam No. DJ.II/420 Tahun 2009

tentang Model, Bentuk dan Spesifikasi Formulir

Wakaf Uang;

f. Peraturan Badan Wakaf Indonesia No. 1 Tahun

2009 tentang Pedoman Pengelolaan dan

Pengembangan Harta Benda Wakaf Bergerak

Berupa Uang.

4. Apakah seseorang dapat melakukan wakaf uangjika memiliki hutang?

Jika ia (calon wakif) berada di bawah pengampuan

karena hutang dan mewakafkan seluruh atau

sebagian hartanya, sedang hutangnya meliputi

seluruh harta yang dimiliki, hukum wakafnya sah.

Apabila mereka merelakannya, maka wakaf dapat

terlaksana sebab para kreditur telah menggugurkan

hak mereka untuk mencegah atau membatalkan

wakaf si debitur, tetapi jika mereka tidak merelakannya,

wakaf tidak dapat dilaksanakan.

Apabila hutang si calon wakif tidak sampai meliputi

seluruh harta yang dimiliki, maka wakafnya sah dan

dapat terlaksana atas kelebihan harta setelah

dikurangi sebagian untuk melunasi barang, sebab

perbuatan baiknya tidak merugikan para kreditur

yang haknya tergantung pada kemampuan si Wakif

untuk melunasi piutang mereka. (Lihat, Dr. Wahbah

Az-Zuhaili, Al-Fiqhu al-Islami wa ‘Adillatuhu,

Damaskus: Dar al-Fkr, tt, hal. 7625; Lihat juga dalam

Pedoman Pengelolaan Wakaf Tunai, Dirjen Bimas

Islam, Kemenag RI, 2008, hal. 20)

5. Apakah boleh seseorang berwakaf uang atas nama

orang lain atau orang yang telah meninggal?

Boleh untuk wakaf uang jangka waktu selamanya.

6. Apakah boleh seorang non muslim berwakaf uang?

Siapa saja boleh untuk berwakaf uang, termasuk

non muslim.

7. Apakah ada fatwa MUI yang membolehkan wakaf

uang di Indonesia?

Ada, yaitu Fatwa MUI Tentang Wakaf Uang

ditetapkan tanggal 11 Mei 2002:

a. Wakaf Uang (Cash Wakaf/Waqf al-Nuqud)

adalah wakaf yang dilakukan seseorang,

kelompok orang, lembaga atau badan hukum

dalam bentuk uang tunai;

b. Termasuk ke dalam pengertian uang adalah

surat-surat berharga;

c. Wakaf Uang (Cash Wakaf/Waqf al-Nuqud)

adalah wakaf yang dilakukan seseorang,

kelompok orang, lembaga atau badan hukum

dalam bentuk uang tunai;

d. Wakaf Uang hukumnya jawaz (boleh);

e. Nilai pokok Wakaf Uang harus dijamin

kelestariannya, tidak boleh dijual, dihibahkan,

dan atau diwariskan.

8. Apakah wakaf uang atas nama lembaga/organisasi

boleh dilakukan?

Boleh. Sebagaimana yang diatur dalam UU No. 41

Tahun 2004 Tentang Wakaf bahwa Wakif meliputi:

perseorangan, organisasi, badan hukum.

www,bwi.or.id

Author: profitbulanan